FOTO : Kapolsek Delitua
DELITUA | Kehadiran Kapolsek Delitua AKP Kennedy Sitompul, SH, MH sebagai pembina upacara di salah satu SMA di Delitua, Senin (10/8/2026), mendapat apresiasi.
Di hadapan siswa dan guru, Kapolsek mengingatkan bahaya tawuran, geng motor, narkoba hingga perjudian yang dapat menghancurkan masa depan generasi muda.
Namun, di balik pesan tersebut, muncul pertanyaan kritis dari masyarakat: sejauh mana imbauan tersebut dibarengi tindakan nyata di lapangan?
Masyarakat tidak membutuhkan sekadar pidato, patroli, ataupun dokumentasi kegiatan. Yang dibutuhkan adalah jaminan keamanan yang benar-benar dirasakan warga.
Jangan Sampai Geng Motor Hanya Dilawan dengan Spanduk dan Imbauan
Larangan terhadap geng motor tentu patut diapresiasi. Tetapi jika aksi kelompok remaja masih terus menjadi keresahan, maka pendekatan pencegahan harus dievaluasi.
“Kalau hanya mengimbau, semua orang juga bisa. Masyarakat ingin melihat tindakan nyata. Kalau memang ada titik rawan, lakukan pengawasan dan penertiban secara konsisten,” ujar warga.
Salah satu langkah yang dinilai perlu mendapat perhatian adalah penertiban kendaraan dengan knalpot brong secara rutin dan tidak pandang bulu, sesuai ketentuan yang berlaku.
Jangan sampai penertiban hanya dilakukan ketika kamera sedang menyorot atau ketika sebuah aksi sudah viral di media sosial.
Patroli Ada, Tetapi Apa Hasilnya?
Patroli merupakan bagian penting dalam menjaga keamanan. Namun, masyarakat mempertanyakan efektivitasnya apabila aksi tawuran dan kelompok remaja yang meresahkan masih kembali muncul.
Patroli bukan sekadar berkeliling, berhenti di lokasi rawan, kemudian mengambil dokumentasi.
Patroli seharusnya mampu menghasilkan pencegahan. Jika ditemukan kelompok yang berpotensi melakukan gangguan keamanan, harus ada langkah sesuai kewenangan dan hukum yang berlaku.
Masyarakat juga berharap Polsek Delitua berani melakukan evaluasi terhadap pola patroli yang selama ini dilakukan.
Masyarakat Tidak Ingin Polisi Hadir Setelah Kejadian
Kritik masyarakat sebenarnya sederhana: jangan menunggu tawuran terjadi, jangan menunggu korban jatuh, dan jangan menunggu video viral baru bertindak.
Pencegahan harus dilakukan sebelum masalah terjadi.
Pemetaan lokasi rawan, patroli pada jam rawan, penertiban pelanggaran lalu lintas yang berkaitan dengan aktivitas kelompok remaja, serta koordinasi dengan sekolah, orang tua dan tokoh masyarakat harus berjalan secara berkelanjutan.
Sebab, keberhasilan kepolisian bukan diukur dari seberapa banyak foto kegiatan yang dipublikasikan, tetapi dari seberapa aman masyarakat ketika berada di jalan pada malam hari.
Pesan Kapolsek Harus Dibuktikan
Apa yang disampaikan AKP Kennedy Sitompul kepada para pelajar merupakan pesan yang baik. Tetapi masyarakat berharap pesan tersebut tidak berhenti di lingkungan sekolah.
Kalau polisi meminta pelajar menjauhi geng motor, masyarakat juga ingin melihat polisi benar-benar serius mencegah ruang gerak kelompok yang meresahkan tersebut.
Masyarakat tidak sedang meminta tindakan di luar hukum. Masyarakat hanya meminta penegakan aturan yang konsisten, terukur dan tidak pandang bulu.
Kini pertanyaannya bukan lagi “apakah polisi sudah melakukan patroli?”
Pertanyaannya adalah:
“Apakah masyarakat sudah benar-benar merasa aman setelah patroli tersebut dilakukan?”
Jawaban atas pertanyaan itu yang akan menjadi ukuran nyata seberapa efektif upaya pencegahan geng motor di wilayah hukum Polsek Delitua.**
(Redaksi/Vona T)
Di hadapan siswa dan guru, Kapolsek mengingatkan bahaya tawuran, geng motor, narkoba hingga perjudian yang dapat menghancurkan masa depan generasi muda.
Namun, di balik pesan tersebut, muncul pertanyaan kritis dari masyarakat: sejauh mana imbauan tersebut dibarengi tindakan nyata di lapangan?
Masyarakat tidak membutuhkan sekadar pidato, patroli, ataupun dokumentasi kegiatan. Yang dibutuhkan adalah jaminan keamanan yang benar-benar dirasakan warga.
Jangan Sampai Geng Motor Hanya Dilawan dengan Spanduk dan Imbauan
Larangan terhadap geng motor tentu patut diapresiasi. Tetapi jika aksi kelompok remaja masih terus menjadi keresahan, maka pendekatan pencegahan harus dievaluasi.
“Kalau hanya mengimbau, semua orang juga bisa. Masyarakat ingin melihat tindakan nyata. Kalau memang ada titik rawan, lakukan pengawasan dan penertiban secara konsisten,” ujar warga.
Salah satu langkah yang dinilai perlu mendapat perhatian adalah penertiban kendaraan dengan knalpot brong secara rutin dan tidak pandang bulu, sesuai ketentuan yang berlaku.
Jangan sampai penertiban hanya dilakukan ketika kamera sedang menyorot atau ketika sebuah aksi sudah viral di media sosial.
Patroli Ada, Tetapi Apa Hasilnya?
Patroli merupakan bagian penting dalam menjaga keamanan. Namun, masyarakat mempertanyakan efektivitasnya apabila aksi tawuran dan kelompok remaja yang meresahkan masih kembali muncul.
Patroli bukan sekadar berkeliling, berhenti di lokasi rawan, kemudian mengambil dokumentasi.
Patroli seharusnya mampu menghasilkan pencegahan. Jika ditemukan kelompok yang berpotensi melakukan gangguan keamanan, harus ada langkah sesuai kewenangan dan hukum yang berlaku.
Masyarakat juga berharap Polsek Delitua berani melakukan evaluasi terhadap pola patroli yang selama ini dilakukan.
Masyarakat Tidak Ingin Polisi Hadir Setelah Kejadian
Kritik masyarakat sebenarnya sederhana: jangan menunggu tawuran terjadi, jangan menunggu korban jatuh, dan jangan menunggu video viral baru bertindak.
Pencegahan harus dilakukan sebelum masalah terjadi.
Pemetaan lokasi rawan, patroli pada jam rawan, penertiban pelanggaran lalu lintas yang berkaitan dengan aktivitas kelompok remaja, serta koordinasi dengan sekolah, orang tua dan tokoh masyarakat harus berjalan secara berkelanjutan.
Sebab, keberhasilan kepolisian bukan diukur dari seberapa banyak foto kegiatan yang dipublikasikan, tetapi dari seberapa aman masyarakat ketika berada di jalan pada malam hari.
Pesan Kapolsek Harus Dibuktikan
Apa yang disampaikan AKP Kennedy Sitompul kepada para pelajar merupakan pesan yang baik. Tetapi masyarakat berharap pesan tersebut tidak berhenti di lingkungan sekolah.
Kalau polisi meminta pelajar menjauhi geng motor, masyarakat juga ingin melihat polisi benar-benar serius mencegah ruang gerak kelompok yang meresahkan tersebut.
Masyarakat tidak sedang meminta tindakan di luar hukum. Masyarakat hanya meminta penegakan aturan yang konsisten, terukur dan tidak pandang bulu.
Kini pertanyaannya bukan lagi “apakah polisi sudah melakukan patroli?”
Pertanyaannya adalah:
“Apakah masyarakat sudah benar-benar merasa aman setelah patroli tersebut dilakukan?”
Jawaban atas pertanyaan itu yang akan menjadi ukuran nyata seberapa efektif upaya pencegahan geng motor di wilayah hukum Polsek Delitua.**
(Redaksi/Vona T)


