INDOKOM NEWS | Di tengah rutinnya kegiatan apel yang digelar jajaran kepolisian, masyarakat kembali dibuat resah dengan munculnya dugaan tindak pencurian atau perampasan kendaraan bermotor menggunakan modus yang terbilang unik dan cukup rapi. Korbannya bukan orang dewasa, melainkan seorang remaja berusia 13 tahun yang kehilangan sepeda motor setelah diduga diperdaya oleh tiga pria tak dikenal di wilayah Kecamatan Deli Tua, Kabupaten Deli Serdang.
Peristiwa yang menimpa Heri Febri Yadi (13) terjadi pada Sabtu (30/5/2026) sekitar pukul 17.00 WIB. Sore itu, korban berangkat dari rumah untuk membeli minyak tanah dengan mengendarai sepeda motor Honda Beat. Tidak ada firasat apa pun. Jalanan yang dilaluinya tampak seperti biasa dan aktivitas masyarakat berlangsung normal sebagaimana hari-hari sebelumnya.
Namun ketika melintas di kawasan Jalan Kolam, korban tiba-tiba dihentikan oleh tiga pria yang mengendarai dua unit sepeda motor. Awalnya, para pria tersebut hanya menanyakan lokasi Lapangan Futsal LM. Karena tidak mengetahui lokasi yang dimaksud, korban menjawab apa adanya. Akan tetapi, percakapan yang semula terlihat biasa mendadak berubah menjadi awal dari dugaan aksi kejahatan yang telah dirancang para pelaku.
Salah seorang pria kemudian menuduh bahwa kakaknya baru saja ditampar oleh seseorang yang memiliki ciri-ciri dan kendaraan yang mirip dengan milik korban. Korban yang merasa tidak pernah melakukan hal tersebut tampak kebingungan. Meski demikian, para pria itu terus meyakinkan korban agar ikut bersama mereka untuk memastikan apakah benar dirinya merupakan orang yang dicari.
Merasa tidak bersalah dan tidak menaruh curiga, korban akhirnya mengikuti permintaan para pria tersebut. Mereka kemudian bergerak menuju kawasan Jalan Perwira, Deli Tua. Setibanya di lokasi, korban diminta memarkirkan sepeda motornya. Salah seorang pelaku mengambil kunci kendaraan dengan alasan akan menjaga sepeda motor tersebut, sementara korban diajak pergi menggunakan sepeda motor pelaku untuk menemui orang yang disebut-sebut menjadi korban penganiayaan.
Tak jauh dari lokasi parkir, korban justru diturunkan dan diminta menunggu sebentar. Saat itu korban masih percaya bahwa para pria tersebut akan kembali menjemputnya. Namun menit demi menit berlalu tanpa kepastian. Setelah menunggu sekitar lima menit dan tak seorang pun datang, korban akhirnya memutuskan berjalan kaki kembali menuju lokasi tempat sepeda motornya diparkir.
Sesampainya di lokasi, korban langsung terkejut. Sepeda motor Honda Beat miliknya sudah tidak berada di tempat semula. Pria yang sebelumnya mengaku menjaga kendaraan juga telah menghilang. Saat itulah korban menyadari dirinya diduga telah menjadi korban pencurian atau perampasan kendaraan bermotor dengan modus tuduhan penganiayaan.
"Anak saya semacam dituduh menampar keluarganya. Setelah diajak ikut, ternyata sepeda motornya dibawa kabur sama pelaku," ujar Maya, ibu korban, saat menceritakan kejadian yang dialami anaknya.
Tidak terima atas kejadian tersebut, keluarga korban kemudian membuat laporan resmi ke Polsek Deli Tua. Laporan itu tercatat dengan nomor LP/B/228/VI/2026/Polsek Deli Tua. Keluarga berharap aparat kepolisian dapat segera mengidentifikasi para pelaku dan menemukan kembali kendaraan milik korban yang hingga kini belum diketahui keberadaannya.
Kasus ini menjadi perhatian masyarakat karena modus yang digunakan dinilai cukup berbeda dibandingkan aksi pencurian kendaraan bermotor pada umumnya. Para pelaku tidak menggunakan ancaman senjata ataupun kekerasan secara langsung, melainkan memanfaatkan kebingungan korban melalui cerita dan tuduhan yang dibuat seolah-olah meyakinkan. Modus seperti ini dinilai berbahaya karena dapat dengan mudah memperdaya anak-anak maupun masyarakat yang tidak menaruh curiga.
Di tengah perhatian publik terhadap kasus tersebut, Kapolsek Deli Tua AKP Kenedy Sitompul saat dikonfirmasi wartawan melalui sambungan WhatsApp mengaku belum mengetahui adanya peristiwa yang dialami korban. "Belum tahu saya. Kapan kejadiannya itu ya?" ujarnya singkat.
Pernyataan tersebut kemudian memunculkan beragam tanggapan dari masyarakat yang berharap setiap laporan warga dapat segera ditindaklanjuti. Sebab bagi keluarga korban, yang paling penting saat ini bukanlah banyaknya kegiatan seremonial atau rutinitas institusi yang berlangsung setiap hari, melainkan langkah nyata untuk mengungkap identitas pelaku dan mengembalikan rasa aman di tengah masyarakat.
Peristiwa yang dialami Heri juga menjadi pengingat bahwa kejahatan jalanan terus berkembang dengan berbagai modus baru. Masyarakat diimbau untuk lebih berhati-hati apabila dihampiri orang tidak dikenal yang meminta ikut ke suatu tempat atau meminta meninggalkan kendaraan dengan alasan apa pun. Terlebih apabila alasan yang disampaikan tidak dapat dibuktikan secara jelas.
Kini keluarga korban hanya bisa berharap agar penyelidikan segera membuahkan hasil. Sementara masyarakat Deli Tua menunggu jawaban yang sama, yakni apakah para pelaku berhasil diidentifikasi, apakah kendaraan korban masih bisa ditemukan, dan kapan para pelaku yang diduga telah meresahkan warga tersebut berhasil diamankan oleh pihak berwenang.**
(Vona)


