Iran Klaim Gelombang Serangan ke-30 Hantam Target AS dan Israel, Eskalasi Konflik Timur Tengah Kian Memanas
Editor : Vona Tarigan
Ketegangan militer di Timur Tengah kembali meningkat setelah Iran mengklaim telah meluncurkan gelombang serangan ke-30 terhadap target Amerika Serikat dan Israel dalam rangkaian operasi militer yang mereka sebut “True Promise IV”.
Korps Garda Revolusi Iran, atau Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC), mengatakan serangan terbaru itu dilakukan menggunakan kombinasi rudal balistik, rudal hipersonik, dan drone jarak jauh, yang menurut mereka berhasil menembus sistem pertahanan musuh dan mengenai sejumlah target strategis.
Pernyataan tersebut disampaikan melalui siaran televisi pemerintah Iran dan dikutip oleh Islamic Republic News Agency, media resmi negara itu.
Menurut IRGC, operasi militer tersebut merupakan bagian dari respons Iran terhadap serangan yang dilancarkan oleh Amerika Serikat dan Israel terhadap sejumlah target di wilayah Iran pada akhir Februari lalu.
Para pejabat militer Iran menyebut operasi terbaru ini sebagai salah satu tahap penting dalam strategi balasan mereka yang bertujuan “memaksa lawan menghentikan agresi militer.”
Serangan Berlapis dengan Rudal dan Drone
Dalam penjelasan resmi yang disiarkan media Iran, IRGC menyatakan gelombang serangan terbaru menggunakan berbagai sistem senjata canggih yang dikembangkan dalam beberapa tahun terakhir.
Beberapa senjata yang disebutkan antara lain rudal balistik Khorramshahr, rudal hipersonik Fattah, serta rudal Kheibar, selain sejumlah drone jarak jauh yang mampu terbang ratusan hingga ribuan kilometer.
Menurut militer Iran, peluncuran senjata dilakukan secara serentak dari beberapa lokasi berbeda di wilayah Iran untuk meningkatkan peluang menembus sistem pertahanan udara lawan.
Para analis militer menyebut pendekatan tersebut sebagai strategi “saturation attack”, yakni taktik meluncurkan sejumlah besar rudal dan drone secara bersamaan untuk membebani radar serta sistem pertahanan udara lawan hingga sebagian proyektil dapat lolos dan mencapai target.
Sejumlah laporan media di Israel menyebut sirene peringatan serangan udara sempat berbunyi di beberapa wilayah utara negara itu, meskipun otoritas setempat belum memberikan rincian lengkap mengenai dampak serangan terbaru tersebut.
Sasaran Militer dan Infrastruktur Strategis
IRGC menyatakan bahwa gelombang serangan ke-30 difokuskan pada target militer Amerika Serikat di kawasan Timur Tengah serta fasilitas strategis Israel.
Militer Iran mengklaim bahwa beberapa target yang diserang termasuk pangkalan militer, pusat logistik, dan instalasi yang berkaitan dengan operasi militer AS di kawasan tersebut.
Selain target militer, ketegangan juga berdampak pada sektor energi.
Di Bahrain, otoritas setempat melaporkan kebakaran di fasilitas minyak milik Bahrain Petroleum Company di kawasan Maameer pada hari yang sama dengan serangan Iran.
Pusat Komunikasi Nasional Bahrain mengatakan kebakaran tersebut berhasil dikendalikan dan tidak menimbulkan korban jiwa. Namun pihak berwenang menyatakan insiden tersebut sedang diselidiki untuk menentukan apakah berkaitan langsung dengan eskalasi konflik regional.
Peristiwa tersebut menimbulkan kekhawatiran baru bahwa konflik yang terus berkembang dapat mulai menyasar infrastruktur energi di kawasan Teluk, yang merupakan salah satu jalur pasokan minyak paling vital di dunia.
Awal Eskalasi Konflik
Gelombang serangan Iran merupakan bagian dari eskalasi konflik yang bermula pada 28 Februari 2026, ketika Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan terhadap sejumlah target di Iran, termasuk di ibu kota Teheran.
Serangan tersebut dilaporkan menargetkan fasilitas militer, pusat komando, serta beberapa instalasi yang diduga berkaitan dengan program persenjataan Iran.
Menurut laporan media Iran, serangan awal itu menyebabkan kerusakan pada sejumlah fasilitas serta menimbulkan korban jiwa di kalangan warga sipil.
Salah satu insiden yang paling banyak mendapat perhatian publik terjadi ketika sebuah sekolah perempuan dilaporkan terkena dampak serangan pada hari pertama konflik, menewaskan sejumlah pelajar yang sedang mengikuti kegiatan belajar.
Peristiwa tersebut memicu kemarahan luas di Iran dan meningkatkan tekanan domestik terhadap pemerintah untuk melancarkan respons militer yang lebih keras.
Operasi “True Promise IV”
Iran menyebut rangkaian serangan balasan mereka sebagai Operasi True Promise IV, sebuah operasi militer yang terdiri dari puluhan gelombang serangan bertahap.
Menurut IRGC, setiap gelombang serangan dirancang untuk menguji serta melemahkan sistem pertahanan udara lawan sebelum dilanjutkan dengan serangan berikutnya.
Strategi tersebut mencerminkan perubahan dalam doktrin militer Iran yang semakin mengandalkan perang jarak jauh berbasis rudal dan drone dibandingkan konfrontasi langsung dengan pasukan konvensional.
Iran selama dua dekade terakhir telah berinvestasi besar dalam pengembangan arsenal rudal balistik dan teknologi drone, yang kini menjadi salah satu kekuatan utama militernya.
Beberapa sistem rudal Iran bahkan diklaim memiliki kemampuan hipersonik, yakni mampu melaju dengan kecepatan lebih dari lima kali kecepatan suara, sehingga sangat sulit dicegat oleh sistem pertahanan udara konvensional.
Ketegangan Politik di Tengah Konflik
Eskalasi militer ini juga terjadi di tengah perubahan politik penting di Iran.
Beberapa laporan media menyebut bahwa negara tersebut baru saja mengalami pergantian kepemimpinan tertinggi setelah wafatnya pemimpin sebelumnya.
Putranya, Mojtaba Khamenei, disebut-sebut telah mengambil peran penting dalam struktur kekuasaan negara tersebut.
Pengumuman gelombang serangan terbaru dipandang oleh sejumlah analis sebagai upaya untuk menunjukkan bahwa struktur komando militer Iran tetap solid dan mampu mempertahankan operasi militer meskipun terjadi perubahan politik di dalam negeri.
Kekhawatiran Perang Regional
Konflik antara Iran, Amerika Serikat, dan Israel kini menimbulkan kekhawatiran luas bahwa situasi dapat berkembang menjadi perang regional yang lebih besar di Timur Tengah.
Beberapa negara Teluk telah meningkatkan kewaspadaan keamanan, terutama terhadap kemungkinan serangan terhadap pangkalan militer, pelabuhan, maupun fasilitas energi.
Para analis juga memperingatkan bahwa eskalasi lebih lanjut dapat berdampak pada jalur perdagangan global, terutama jika konflik mulai memengaruhi jalur pelayaran strategis seperti Selat Hormuz.
Selat tersebut merupakan salah satu rute ekspor minyak terpenting di dunia, dilalui sekitar seperlima pasokan minyak global setiap hari.
Seruan Internasional untuk De-eskalasi
Komunitas internasional mulai meningkatkan seruan agar semua pihak menahan diri dan mencari jalan diplomasi.
Sejumlah negara serta organisasi internasional memperingatkan bahwa konflik yang terus meningkat tidak hanya mengancam stabilitas Timur Tengah, tetapi juga dapat berdampak pada ekonomi global, harga energi, serta keamanan internasional.
Namun hingga kini belum ada tanda-tanda bahwa ketegangan akan segera mereda.
Dengan kedua pihak terus meluncurkan serangan dan memperkuat posisi militer mereka di kawasan, Timur Tengah kembali berada di ambang konflik yang lebih luas sebuah krisis yang berpotensi mengguncang stabilitas geopolitik dunia dalam waktu lama.**


