Laporan : Vona Tarigan
DELISERDANG| Kecamatan Namorambe, Kabupaten Deli Serdang, kini menghadapi krisis kepercayaan publik yang kian mengkhawatirkan. Dalam beberapa bulan terakhir, rentetan persoalan kriminal muncul tanpa penyelesaian yang jelas. Mulai dari teror, pencurian kendaraan bermotor, hingga dugaan praktik perjudian yang berlangsung terang- terangan semuanya seakan berjalan tanpa kendali.
Sorotan tajam mengarah pada kepemimpinan Kapolsek Namorambe, AKP Sukses Capa Sinulingga. Sejak menjabat, masyarakat menilai situasi keamanan bukan membaik, melainkan justru menunjukkan gejala sebaliknya.
Kasus teror pengiriman kepala anjing ke rumah orang tua inisial PH pada 18 Maret lalu menjadi simbol kegagalan yang paling nyata. Peristiwa ini sempat viral dan mengundang perhatian luas, namun hingga kini belum juga terungkap. Tidak ada pelaku yang ditangkap, tidak ada kejelasan motif, dan tidak ada transparansi perkembangan penanganan.
Bagi masyarakat, ini bukan sekadar kasus biasa. Ini adalah bentuk teror yang menyasar rasa aman warga. Ketika kasus sejelas dan seviral ini saja tak kunjung terungkap, publik mulai mempertanyakan: apa yang sebenarnya sedang dikerjakan aparat?
Di saat kasus teror mandek, angka pencurian sepeda motor justru dilaporkan meningkat. Warga mengaku semakin resah, karena aksi curanmor disebut terjadi berulang tanpa penindakan yang berarti. Minimnya pengungkapan kasus semakin memperkuat kesan bahwa penegakan hukum di wilayah ini sedang melemah.
Namun yang paling mengundang kemarahan publik adalah dugaan maraknya praktik perjudian tembak ikan. Aktivitas ini disebut-sebut berlangsung secara terbuka di berbagai titik, seperti Desa Tangkahan, Namo Landur, hingga kawasan terminal Namorambe.
Ironisnya, praktik yang jelas melanggar hukum ini terkesan tidak tersentuh. Di tengah lemahnya penindakan terhadap kejahatan yang meresahkan masyarakat, perjudian justru diduga berkembang pesat.
Sejumlah informasi dari lapangan bahkan menyebutkan adanya dugaan keterlibatan oknum aparat dalam pembiaran aktivitas tersebut. Dugaan ini mencuat seiring tidak adanya tindakan tegas terhadap lokasi-lokasi perjudian yang disebut sudah lama beroperasi.
Jika dugaan ini benar, maka persoalannya bukan lagi sekadar lemahnya kinerja, melainkan krisis integritas. Aparat yang seharusnya menjadi penegak hukum justru dipersepsikan sebagai pihak yang membiarkan, atau bahkan diduga melindungi pelanggaran hukum.
Kondisi ini menciptakan ironi yang sulit diterima akal sehat. Di satu sisi, masyarakat menghadapi teror yang tidak terungkap dan maraknya pencurian. Di sisi lain, praktik perjudian yang nyata di depan mata justru seolah aman dari penindakan.
“Yang tidak jelas tidak terungkap, yang jelas-jelas melanggar malah dibiarkan,” menjadi keluhan yang kini banyak terdengar di tengah masyarakat Namorambe.
Situasi ini menempatkan institusi kepolisian pada titik krusial. Kepercayaan publik yang terkikis bukanlah persoalan sepele. Ketika masyarakat mulai meragukan aparat, maka yang runtuh bukan hanya citra, tetapi juga legitimasi hukum itu sendiri.
Evaluasi menyeluruh terhadap kinerja Polsek Namorambe menjadi tuntutan yang tak terelakkan. Penanganan kasus harus transparan, penegakan hukum harus tegas, dan yang terpenting tidak boleh ada toleransi terhadap dugaan penyimpangan, siapa pun pelakunya.
Lebih dari itu, pengawasan dari tingkat yang lebih tinggi harus hadir secara nyata, bukan sekadar formalitas. Kecamatan Namorambe tidak boleh dibiarkan menjadi contoh buruk dari lemahnya penegakan hukum di daerah.
Masyarakat kini menunggu, bukan janji—melainkan tindakan. Karena jika kondisi ini terus dibiarkan, maka yang tumbuh bukan hanya kriminalitas, tetapi juga ketidakpercayaan yang jauh lebih berbahaya.
Di tengah ketidakmampuan menangani kejahatan yang meresahkan, muncul ironi yang membuat darah mendidih: perjudian jenis tembak ikan beroperasi dengan sangat bebas. Lampunya menyala terang, pengunjungnya ramai, dan semuanya berlangsung di siang bolong.
Yang bikin warga marah": ini jelas melanggar hukum, tapi seolah mendapat izin khusus. Tidak pernah ada razia, tidak ada penutupan tempat, tidak ada penangkapan. Bahkan beredar kabar yang membuat hati perih: ada oknum yang sengaja membiarkan, bahkan mengambil keuntungan dari bisnis haram ini.
"Yang jelas-jelas salah malah dilindungi, yang jadi korban malah dibiarkan. Apa ini hukum buat orang biasa saja?" tanya seorang pemuda dengan nada kesal.
Bungkamnya Kapolsek: Diam yang Menjadi Suara
Ketika semua orang bertanya, ketika media sudah berusaha mencari jawaban, apa yang dilakukan pimpinan tertinggi kepolisian di sini? Diam.
Pada Senin, 20 April 2026, Indokom News sudah mengirim pesan konfirmasi lewat WhatsApp kepada AKP Sukses Capa Sinulingga. Pertanyaan jelas, masalah nyata, tapi sampai detik ini: tidak ada balasan, tidak ada penjelasan, tidak ada sepatah kata pun.
Dalam situasi seperti ini, diam bukanlah netral. Diam adalah pengakuan, diam adalah ketidakpedulian, dan diamlah yang membuat kecurigaan masyarakat tumbuh makin besar.
Krisis Kepercayaan: Yang Runtuh Lebih Parah dari Gedung
Ada satu kalimat yang kini diucapkan hampir semua orang di Namorambe: "Yang tidak jelas tidak terungkap, yang jelas-jelas salah malah dibiarkan."
Ini bukan lagi soal kurangnya kerja atau lambatnya kinerja. Ini sudah masuk ke ranah kepercayaan—sesuatu yang butuh waktu bertahun-tahun untuk dibangun, tapi bisa hancur hanya dalam hitungan kasus.
Warga tidak minta janji manis. Tidak minta pidato panjang lebar. Mereka cuma mau satu hal: bukti. Tunjukkan pelaku teror, tangkap maling-maling motor, tutup tempat judi yang merusak masa depan anak muda.
Kalau tidak ada perubahan segera, maka Namorambe akan terus menjadi contoh buruk: di mana hukum hanya tulisan di kertas, dan rasa aman cuma mimpi di siang bolong.
Karena ingat: ketika kepercayaan sudah hilang, apa lagi yang bisa diharapkan dari penegak hukum?**


