Iran Hentikan Total Ekspor Pangan di Tengah Konflik, Pasar Komoditas Dunia Terancam Bergejolak
INDOKOM NEWS | Pemerintah Iran resmi menghentikan seluruh ekspor produk makanan dan hasil pertanian tanpa batas waktu. Kebijakan drastis ini diambil untuk memastikan ketersediaan pasokan pangan di dalam negeri di tengah meningkatnya konflik dengan Amerika Serikat dan Israel.
Media Iran, Tasnim News Agency, melaporkan bahwa keputusan tersebut telah disampaikan kepada seluruh otoritas bea cukai di negara itu. Pemerintah menegaskan bahwa prioritas utama saat ini adalah menjamin ketersediaan barang-barang kebutuhan pokok bagi masyarakat.
Larangan ini memperluas pembatasan sebelumnya yang hanya berlaku untuk beberapa komoditas tertentu seperti kentang, tomat, kurma, dan telur. Kini seluruh produk pangan dan hasil pertanian masuk dalam daftar larangan ekspor.
Langkah tersebut menandai perubahan arah kebijakan Iran menuju ekonomi berbasis perang, seiring meningkatnya ketegangan geopolitik di kawasan. Situasi memanas setelah tiga putaran perundingan nuklir antara Washington dan Teheran berakhir tanpa kesepakatan.
Putaran terakhir yang digelar di Jenewa pada 26 Februari di bawah pemerintahan Presiden AS Donald Trump gagal mencapai titik temu. Iran menolak menghentikan program pengayaan uranium maupun membongkar fasilitas nuklirnya.
Tak lama setelah itu, Israel dilaporkan melancarkan serangan udara terhadap sejumlah target di Iran. Beberapa laporan bahkan menyebutkan operasi militer Israel dan Amerika Serikat menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Seyyed Ali Khamenei, bersama sejumlah pejabat militer senior, termasuk komandan Garda Revolusi Iran (IRGC) dan Menteri Pertahanan.
Di sisi lain, keputusan Iran menghentikan ekspor pangan berpotensi mengguncang pasar komoditas global. Negara tersebut dikenal sebagai salah satu eksportir utama produk pertanian, terutama pistachio.
Data Organisasi Pangan dan Pertanian PBB (FAO) menunjukkan Iran menjadi produsen pistachio terbesar kedua di dunia pada 2024 dengan produksi mencapai 316.100 ton metrik, berada di bawah Amerika Serikat yang memproduksi 498.900 ton.
Komoditas pistachio sendiri merupakan sumber pendapatan ekspor penting bagi Teheran dengan nilai sekitar USD1,7 miliar setiap tahun.
Meski demikian, dampak langsung kebijakan ini terhadap beberapa negara importir mungkin masih terbatas. Brasil, misalnya, hanya mengimpor 49 ton pistachio Iran pada awal 2026 dan sekitar 422,6 ton sepanjang 2025, menurut data Kementerian Perdagangan Brasil. Sebagian besar pasokan pistachio Brasil justru berasal dari Amerika Serikat.
Namun para analis memperingatkan, jika larangan ekspor ini berlangsung lama, pasokan komoditas tertentu di pasar global bisa semakin ketat. Produk seperti pistachio, buah kering, hingga saffron berpotensi mengalami lonjakan harga karena Iran merupakan salah satu pemain utama di pasar tersebut.
Situasi semakin rumit karena konflik di kawasan juga mulai mengganggu jalur perdagangan internasional. Selat Hormuz, salah satu rute pelayaran energi paling vital di dunia, dilaporkan mulai ditinggalkan kapal tanker setelah sejumlah perusahaan asuransi maritim menarik perlindungan risiko perang.
Analis energi Robert Rapier menyebut kondisi ini mendekati skenario terburuk bagi perdagangan global. Jika Selat Hormuz benar-benar terganggu, dampaknya bukan hanya pada energi, tetapi juga rantai pasok komoditas dunia.**
(Red/Vona Tarigan)


