ads display

Perang AS–Israel–Iran Guncang Ekonomi Amerika, Harga Energi Melonjak dan Inflasi Mengintai

Redaksi
4 Mar 2026 | Maret 04, 2026 WIB Last Updated 2026-03-04T11:33:06Z

Poto : IST/Net : Perang AS–Israel–Iran Guncang Ekonomi Amerika

INDOKOM NEWS | Ketegangan militer yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran kini tak hanya menjadi isu geopolitik, tetapi juga ancaman nyata bagi stabilitas ekonomi Washington. Eskalasi konflik di Timur Tengah memicu lonjakan harga energi global, meningkatkan kekhawatiran akan gelombang inflasi baru di Negeri Paman Sam.

Harga minyak mentah dunia langsung merespons. Brent melonjak ke level tertinggi sejak Juli 2024, memicu alarm di pasar energi internasional. Kenaikan ini diperkirakan segera berdampak pada harga bensin di seluruh Amerika Serikat—isu yang sangat sensitif secara ekonomi dan politik.

Analis utama Oxford Economics, John Canavan, mengatakan dampaknya bisa terasa dalam hitungan hari.

“Harga di SPBU kemungkinan akan naik dalam beberapa hari,” ujar Canavan kepada AFP, Rabu (4/3/2026).


Menurutnya, harga bensin sebenarnya sudah menunjukkan tren naik sejak awal Januari. Pengecer bahan bakar di AS dikenal cepat menyesuaikan harga setiap kali muncul risiko geopolitik yang berpotensi menekan pasokan global.

Lonjakan harga energi ini berisiko membebani rumah tangga Amerika, terutama karena belanja konsumen menyumbang sekitar dua pertiga Produk Domestik Bruto (PDB) AS. Kenaikan biaya bahan bakar dan listrik dapat menggerus daya beli masyarakat, sekaligus memicu efek domino ke berbagai sektor.

Ekonom ING, James Knightley, memperingatkan bahwa dampaknya akan merembet ke tarif penerbangan, biaya logistik, hingga harga barang konsumsi. Meskipun AS relatif mandiri dalam produksi gas alam, harga domestik tetap terhubung dengan dinamika pasar global.

“Ini tidak diragukan lagi akan menjadi titik kritis bagi perekonomian AS,” kata Knightley.


Ia menambahkan, jika konflik berlangsung lebih dari beberapa pekan, tekanan terhadap keuangan konsumen bisa meningkat tajam dan memperlambat pertumbuhan ekonomi nasional.

Dari sisi politik, situasi ini menjadi ujian berat bagi Presiden Donald Trump. Kenaikan harga energi kerap berdampak langsung pada persepsi publik terhadap pemerintah, terlebih menjelang pemilihan umum.

Kepala Ekonom Nationwide, Kathy Bostjancic, menilai pemerintah sangat memahami sensitivitas isu ini.

“Harga bensin yang lebih tinggi akan berdampak negatif pada kepercayaan dan sentimen konsumen. Itu bisa terlihat di bilik suara pada bulan November,” ujarnya.


Sementara itu, bank sentral AS, Federal Reserve, berada dalam posisi yang tidak mudah. Risiko inflasi yang meningkat berpotensi menahan suku bunga tetap tinggi, namun perlambatan ekonomi dan kemungkinan melemahnya pasar tenaga kerja justru membuka ruang untuk pelonggaran kebijakan.

Presiden Federal Reserve New York, John Williams, mengatakan pihaknya masih memantau dampak jangka panjang konflik terhadap harga.

“Kita harus menunggu dan melihat,” katanya.


Knightley menilai tekanan inflasi jangka pendek membuat peluang pemangkasan suku bunga dalam waktu dekat menjadi kecil. Bank sentral harus menyeimbangkan dua mandat utamanya: menjaga inflasi tetap terkendali dan memastikan lapangan kerja maksimal.

Dengan konflik yang belum menunjukkan tanda-tanda mereda, ekonomi Amerika kini berdiri di persimpangan jalan. Harga energi yang terus bergejolak bisa menjadi faktor penentu arah kebijakan moneter, stabilitas pasar, hingga dinamika politik domestik dalam beberapa bulan ke depan.**

Sumber: AFP, Oxford Economics, ING, Nationwide, Federal Reserve (4 Maret 2026).

(Red/Vona Tarigan)

Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Perang AS–Israel–Iran Guncang Ekonomi Amerika, Harga Energi Melonjak dan Inflasi Mengintai

Trending Now

Iklan

close